Masalah Impor Film Hollywood

Sebenernya udah dari 3 minggu yang lalu mau bahas & ngutip artikel ini, tapi baru bisa hari ini terlaksana. Dilansir dan dikutip dari MBDC, Kemarin ada berita yang sepertinya menyenangkan tapi cukup bikin bingung: katanya film impor udah boleh tayang lagi, tapi film-film yang dari studio gede tetep blum boleh main. Loh jadi gimana sebenernya? Apa sih yang terjadi? Mungkin banyak dari antara kamu yang bingung.

Coba simak rangkuman berikut tentang apa yang sebenernya terjadi dengan impor film ini.

Fakta

Sebelum kita mulai ngobrol masalah apa yang terjadi, mungkin kamu harus tau bagaimana proses sebuah film bisa sampe tayang di Indonesia. Flowchartnya kurang lebih begini:

Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa distributor film lokal alias para importir ini pada dasarnya adalah bisnis yang berbeda sama sekali dengan bioskop. Jadi bioskop tidak mengimport film. Mereka cuma memutarkan film-film yang diimport oleh para importir. Tapi kita akan bahas tentang ini lebih lanjut nanti.

Di Indonesia ada 7 distributor film, yaitu:

  1. PT. Camila Internusa Film. Salah satu distributor tertua di Indonesia. Ngedatengin film-film Hollywood keluaran Sony/Columbia, Universal, dan Paramount
  2. PT. Satrya Perkasa Esthetika Film. Distributor film Hollywood juga. Ngedatengin film keluaran 20th Century Fox, Disney, dan Warner Bros
  3. PT. Amero Mitra Film. Distributor film Hollywood juga, tapi bukan dari studio yang big six, melainkan yang kecil-kecil aja, kayak The Weinstein Company, Lionsgate, Screen Gems, Summit, dan CBS.
  4. Jive Entertainment. Kebanyakan ngedatengin film-film non Hollywood, seperti misalnya film-film dari Thailand, Perancis, Norwegia, dan lain-lain
  5. PT. Parkit Film. Kebanyakan mendatangkan film dari Bollywood dan beberapa film keluaran studio indie Hollywood.
  6. PT. Teguh Bakti Mandiri. Yang satu ini katanya spesialisasinya di film-film mandarin.
  7. PT. Rapi Films. Yang satu ini lebih terkenal sebagai Production House yang bikin banyak sinetron dan film bioskop, tapi ternyata mereka juga mengimport beberapa film indie dari barat.

Nah, yang disebut sebagai Studio Big Six Hollywood adalah Sony/Columbia, Universal, Paramount, Disney, 20th Century Fox, dan Warner Bros. Kenapa mereka yang big six? Ya kamu liat aja film-film blockbuster. Semuanya pasti keluaran salah satu dari studio ini. Dan seperti yang sudah kamu sadari, Big Six Studio ini distribusinya dipegang oleh dua distributor, yaitu PT. Camila Internusa Film dan PT. Satrya Perkasa Esthetika Film.

Sudah mulai bisa merasakan masalahnya?

Apa yang Terjadi

Yang terjadi adalah 3 distributor terbesar Indonesia yang mendatangkan film-film Hollywood (Camilla, Satrya, dan Amero) tersandung masalah pajak. Amero katanya sudah bayar, makanya kamu bisa liat film-film Hollywood dari studio kecil mulai bisa tayang lagi (Source Code, Limitless, Rabbit Hole).

Problemnya, dua distributor yang megang 6 studio besar ini belum bayar pajak.

Oke, kita lumayan seneng sih film-film semacem Source Code udah bisa masuk lagi. Tapi, ini adalah masanya summer blockbuster. Masa dimana film-film yang HARUS ditonton di bioskop keluar. Film-film ini belum tentu bagus, tapi HARUS ditonton di bioskop. Dan sekarang mereka gak bisa masuk karena dua distributor yang megang hak edar film-film besar ini belum bayar pajak.

Jadi kenapa mereka gak bayar pajak?

Kalo versi mereka sih karena katanya ada perubahan peraturan dari dirjen pajak mengenai masalah pajak film ini. Kenyataannya? Kalo sumber kita yang satu ini bisa dipercaya, sebenernya gak ada kenaikan apa-apa sama sekali. Semuanya masih dalam kesepakatan awal. Problemnya, sejak tahun 1995 para distributor film ini tidak membayar pajak film lagi.

Jadi gampangnya gini, mereka gak bayar pajak dari tahun 1995 dan sekarang, 16 tahun kemudian, semua pajak yang mereka tunggak itu ditagih. Salah siapa? Ya salah semua. Salahnya distributor, kalo emang dari dulu peraturan itu ada, kenapa gak dibayar? Salahnya bagian pajak, kalo emang pajaknya harus ada, kenapa dari dulu gak ditagih? Ada yang bilang sih ini ada hubungannya dengan hubungan grup bioskop 21 dengan pemerintahan orba. Tapi itu katanya lho. Kita sih gak tau.

Eh tunggu. Kok jadi 21 sih? Ternyata merupakan sebuah rahasia umum bahwa 3 distributor terbesar di Indonesia itu adalah related party-nya 21 grup. Jadi intinya mereka memonopoli film-film yang beredar di Indonesia. Makanya dulu banyak bioskop yang pada akhirnya tutup atau bergabung ke grup 21: karena mereka gak dapet pasokan film. Seperti yang kamu mungkin sudah tau, bioskop gak ada gunanya kalo gak ada film.

Nah, maka dari itulah kenapa seharusnya distributor film dan bioskop itu gak boleh dari satu pihak yang sama. Itu akan menyebabkan monopoli dagang. Ya sekarang logika aja, kalo kamu punya film yang kamu tau bakal laku, ngapain dibagi-bagi ke bioskop lain? Puter aja di bioskop sendiri biar keuntungan dari film itu bisa kamu nikmatin sendiri.

Loh, tapi bukannya Blitzmegaplex juga punya Jive Entertainment yang kerjanya juga import film? Bener, tapi kenyataannya kan orang-orang lebih prefer nonton Transformers dibanding Alpha and Omega kan? Pasti sebagian besar dari kamu juga gak tau Alpha and Omega film apaan. Makanya untuk saat ini Jive masih bisa dikatakan aman: karena efeknya gak akan luas. Tapi kalo nantinya tiba-tiba mereka bisa mendistribusikan film-film besar, hal ini juga bisa jadi bahaya.

Terus apakah mungkin ada distributor lain yang mengedarkan film-film dari studio big six Hollywood?

Kalo menurut blitzmegaplex itu gak bisa, karena studio besar Hollywood itu sudah menunjuk distributor resmi mereka di Indonesia, yaitu 3 distributor yang sudah disebut di atas tadi.

Dengan kata lain, buang semua harapan kalian.

Jadi skenario terbaiknya adalah: suatu hari film-film bakal masuk lagi, tapi harga tiket 21 akan naik drastis. Pada saat itu kamu tidak punya pilihan dan akan bayar-bayar aja. Terus kamu bakal protes ke pemerintah kenapa harga tiket begitu mahal, dan apapun outcome-nya, 21 menang. Mereka hidup bahagia selamanya.

Itu skenario terbaik dan kita belum tau kapan itu akan terjadi.

Berita update-nya,

Kemaren 9 Juni 2011, sempet ada kabar film Hollywood mau masuk lagi. disini link beritanya.

ternyata 10 Juni 2011, dibantah sama Menkeu. disini link beritanya.

Capek yee, kalo udah lingkup birokrasi keliatan hampir selalu simpang-siur.😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: